Senin, 23 Agustus 2010

hatiku

tiba-tiba
aku ingin pulang dan memeluk dirimu
tanpa syarat
dengan cinta dan sayang

dan memainkan jemari lentikmu
cium harum melekat minyak telon

Minggu, 15 Agustus 2010

antara ...


kususuri langkah pelan
gelap diantara sepi kelam
Bulir-bulir embun menetes perlahan
Kerasnya hati silaukan mata keram

tersungging antara dua hati senyuman
tertawa, menangis, gembira
bersatu dalam janji tertahan
dengan cahaya berdampingan sang surya

hati tertutup panas
gelap mata merasuk dalam emosi
Tersirat nikmatnya anugerah Ilahi
hasrat jiwa katakan cemas

saat harapan mulai tumbuh dan jatuh
tetap berpadu satu tujuan kehidupan
hingga ilusi mulai membunuh
Untuk kembali pada kenyataan

Merdeka bagi ku !


mengendap dalam gelap malam
menghadang para konvoi
dengan jantung bergegas kencang
tubuh di dera peluru
terbaring beku lumuran darah di rumput ilalang

saat itu...
kami belum tau
ketika itu kami belum tumbuh di rahim ibu

terpelanting, bertahan habis-habisan dengan seragam kumal
beberapa compang camping..
kesetiakawanan menulang pada sumsum mereka
dengan mengunci rapat barisan pasukan

kemerdekaan telah ter' rebut
adalah warisan bagi negeri kami
tapi,... kemerdekaan tak lagi kenal rasa rendah diri
saat sekolah naik sepeda bukan segumpal rasa bangga lagi

kemerdekaan....
adalah ketika hati nurani bebas melangkah
dengan gagah, bebas berkata tanpa terbata-bata

Aku bebas dalam menarikan jari lentikku
ku buat kalimat dengan hatiku
yah ... aku adalah salah satu pujangga
meski belum bisa disebut begitu
tapi aku masih belajar dan belajar

bagaimana merdeka menurutmu ?
itu terserah dirimu sendiri ....

Jumat, 13 Agustus 2010

cerita usang


aku tak mengerti
dimana letak kebenaran
sepertinya semua yang ada salah
tak terbaca
diantara kelambu malam

mungkin kacamataku mulai aus
hingga tak bisa ku katakan
ini benar ..
ini salah ..

kawan ...
mungkin kau kata itu menyerupai titik akhir
tapi bagiku, semua ku terima
karena ku hormati untukmu

kawan ...
inikah senyum mu itu
kini ada diatas sengsaraku

dan ...
harus kau tau ,
kau masih kawan ku !

Selasa, 10 Agustus 2010

jalan utama


tertegun ...
aku ada diantara persimpangan
melangkah tak menentu
barat - selatan - utara - timur
sepertinya engan tuk berjalan apalagi berlari
pilihan di depan mata tak kunjung usai

jalan yang tertempuh selalu bercabang
dengan gejolak tak jelaskan arah
bebatuan tandus dan daun yang hijau
menjadi bayang-bayang halus
hingga kebingungan beranjak di wajah kelam

kusadar hari semakin malam
dengan gelap tanpa bintang sinari jalanku
tapi ... semua itu memeng pilihan
langkah kakiku pun diam
terpaku menatap satu bintang di langit

ternyata, batu tandus adalah pilihan utama
tanpa ragu ku tatap sinarnya
ku tetapkan hati dan percaya
ujung jalan itu pasti aku temukan

lukisan hidupku


dulu ....
lembaran yang kusaji masih putih
polos tak ternoda
sangat indah
layaknya rupawan saat ku kecil

kehidupan waktu berputar melaju
canda, tawa, sedih, luka, lalui diri
kini alur cerita mulai berombak
kertas yang ku saji mulai ternoda
tercoreng dosa dan penuh hina

kini tak putih lagi
warna berubah pelangi
dengan hati yang masih padaMU
wajah hati penuh poles
karena kesalahan yang berarti

Canda dan tawa menghilang
Saat nama tak ada
Didalam buku kehidupan manusia
Milik Sang Khalik penyayang

rasa yang tak pernah mati


waktu berlalu berlaju ku ikuti
larut dalam derita yang tak menentu
ntah harus berhenti atau tak
mentari berkejar menyerupai air bergejolak

bilangan tak terbilang membaca satu detak
mengharap satu tujuan
menjulang arti ketulusan
dalam harap nyata terucap

berlahan kujelang harapan dalam kepercayaan
tapi...
aku mati berdiri merugi
tanpa nama
diantara rasa cekam
hingga duri menjadi api

aku masih hidup
diantara nadi yang kau bikin mati

jantung hati



kasih ....
jantung yang kau bawa kemaren masih aku cari
di titian waktu ...
di himpitan ada dan tiada ...
mencari dan terus kucari

meski hatiku kau bawa pergi
aku bisa melihat
kau tetap ada di otakku
menjadi satu
tak terhingga

separuh jiwa


Mata ini tak pejam meski lelah
tangan ini masih menari tanpa perintah
jiwa yang kau bawa pergi ntah kemana
masih merintih, berbisik jelas di saraf telinga

roh kau bawa tanpa pesan
bergetar diantara jari jemari
selipkan doa antara kasih dan kebencian
merasuk menusuk jiwa yang lelah
bawa serta aku dalam cinta
dan matimu